La Pagala yang terlupakan


Tahun 1609 M di masa Addatuang Sidenreng La Patiroi seorang ahli hukum tata negara pada masa itu terkenal dengan nama Nene Mallomo. Nama aslinya La Pagala. Beliau adalah ahli hukum (adat) pada masa itu. Berbagai petuahnya menjadi cara pandang dan cara hidup masyarakat Sidenreng pada masa itu.

Resopatemmangingngi namalomo naletei pammase dewata merupakan semboyan yang sudah termashur di seantero sulawesi selatan. Beliau pernah menghukum mati anaknya sendiri yang berbuat salah. Inilah yang beliau maksud dengan Ade’ Temmakkeana Temmakkeappo (Hukum tidak mengenal anak dan cucu). Kebijaksanaan dan ketegasan menjadi ciri khas Nene Mallomo.

Masyarakat bugis sidenreng rappang kini hampir melupakan sosok ini. Selalu didengungkan kata Bumi Nene Mallomo namun pada kenyataannya apa yang ada pada dirinya kini sudah terlihat lagi di masyarakat kita. Masyarakat bugis seharunya tidak melupakan apa yang menjadi sifat dasar masyarakat bugis. Pekerja keras, adalah salah satunya. Generasi muda yang kini kita kenal tidak lagi mengenal siapa itu Nene Mallomo. Mereka kini lebih memilih bersantai di warkop atau di tempat lain yang dianggap bisa untuk bersenang-senang.

Sebaiknya, generasi muda sekarang bisa memunculkan sosok yang mampu mengangkat kembali nilai-nilai luhur pendahulu kita. Pemerintahan Addatuang Sidenreng tidak akan hilang jika bukan karena bergabung dengan Republik Indonesia. Jangan sampai hanya karena hilangnya Addatuang Sidenreng maka hilang pulalah kearifan lokal kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: