Konselor Sebaya : Upaya Pencegahan HIV dan NAPZA


foto0256

Remaja pada umumnya akan selalu memiliki masalah pribadi mereka sendiri. Masalah-masalah tersebut sangat bervariasi mulai dari masalah belajar, hubungan sosial, dan juga tentang perkembangan dirinya sendiri. Buhrmester & Prager ( Geldard & Geldard : 2011) memberikan penjelasan bahwa untuk mengatasi masalah yang sedang dialami oleh seorang remaja, mereka pada umumnya lebih memilih untuk mencari pertolongan dari teman-teman mereka lebih dahulu dari pada orang tua mereka atau orang dewasa lainnya.

Cowie dan Wellace ( Suwarjo, 2008) juga menemukan bahwa dukungan teman sebaya banyak membantu atau memberikan keuntungan kepada anak-anak yang memiliki problem sosial dan problem keluarga, dapat membantu memperbaiki iklim sekolah, serta memberikan pelatihan keterampilan sosial. Dengan kehadiran teman sebaya bagi remaja maka akan sangat mudah untuk membantu dalam penanganan masalah-masalah yang bersifat pribadi dan sosial yang dimiliki oleh remaja tersebut.

Santrock ( Suwarjo, 2008) menjelaskan pula bahwa teman sebaya juga memiliki peran yang sangat penting bagi pencegahan penyalahgunaan NAPZA dikalangan remaja. Hubungan yang positif antara remaja dengan orang tua dan juga dengan teman sebayanya merupakan hal yang sangat penting dalam mengurangi penyalahgunaan NAPZA. Seperti yang telah diketahui bahwa remaja merupakan masa bagi individu muda untuk mencoba berbagai hal yang mereka anggap baru. Jika teman sebaya yang menjadi teman bergaul mereka memberikan pengaruh yang negatif maka bukan tidak mungkin mereka akan terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba dan obat-obat terlarang lainnya.

“Pada dasarnya konseling teman sebaya merupakan suatu cara bagi para siswa (remaja) belajar bagaimana memperhatikan dan membantu anak-anak lain, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari” (Carr, 1981 : 3). Keterampilan konseling yang didapatkan oleh siswa diharapkan mampu untuk diterapkan oleh konselor sebaya itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari mereka dalam berbagai keterampilan seperti komunikasi yang efektif, berempati, dan memahami diri dan orang lain.

Menurut Suwarjo (2008 : 8) “konselor sebaya bukanlah konselor profesional atau ahli terapi. Konselor sebaya adalah para siswa (remaja) yang memberikan bantuan kepada siswa lain di bawah bimbingan konselor ahli”. Dalam konseling sebaya, peran dan kehadiran konselor ahli tetap diperlukan. Kekurangan dari konselor sebaya adalah tidak adanya jaminan bahwa siswa yang berperan sebagai konselor sebaya akan mampu berperan sebagaimana mestinya dalam proses konseling. Hal ini mengingat bahwa mereka pun juga masih termasuk sebagai remaja yang dalam masa perkembangan emosional. Oleh karena itu, peran konselor profesional yang dalam hal ini guru bimbingan dan konseling masih sangat dibutuhkan sebagai pendamping dan pengontrol program konselor sebaya.

Seperti yang telah dijelaskan diatas, maka konselor sebaya memiliki kelebihan tersendiri sebagai alternatif solusi dalam mencegah HIV/AIDS dan NAPZA di kalangan remaja sekarang ini.

Daftar Pustaka :

Geldard, K & Geldard D. 2011. Konseling Remaja : Pendekatan Proaktif Untuk Anak Muda. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suwarjo. 2008. Konseling Teman Sebaya (Peer Counseling)  Untuk Mengembangkan Resiliensi Remaja. Makalah. Disajikan dalam Seminar Pengembangan Ilmu Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, Tanggal 29 Februari 2008. Universitas Pendidikan Indonesia.

Carr, R. A. 1981. Theory and Practice of Peer Counseling. Ottawa : Canada Employment and Immigration Commission.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: